![]() |
| Perikanan Laut (Armada) |
KKP NEWS || Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus
menggiatkan pengembangan industrialisasi perikanan tangkap dengan memperkuat
dan memodernisasi armada nelayan untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber
daya ikan di kawasan timur Indonesia.
" Kita terus berkomitmen untuk memperkuat dan memodernisasi
armada nelayan di kawasan timur agar dapat menunjang mata rantai produksi
secara efisien dan efektif,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C.
Sutardjo Sharif C. Sutardjo di Luwuk, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, Senin
(5/11).
Sebagai langkah nyata, KKP menyerahkan bantuan sebesar Rp3,35
miliar kepada Pemerintah Daerah Sulawesi Tengah dalam mengelola dan
memanfaatkan potensi perikanan secara berkelanjutan, khususnya terhadap
Kabupaten Banggai.
Bantuan tersebut berupa kapal ikan berbobot 30 GT yang mampu
menjelajah jauh, bantuan untuk penguatan permodalan kepada kelompok Usaha
Bersama (KUB) sebesar Rp1 miliar, selanjutnya, bantuan bagi para nelayan
pembudidaya ikan dan program pengembangan usaha mina pedesaan (PUMP) sebesar
Rp260 juta ,bantuan berupa sepeda motor roda tiga yang dilengkapi dengan
pendingin senilai Rp487 juta serta bantuan penyelenggaraan penyuluhan sebesar
Rp110 juta.
“Pengembangan industrialisasi sektor perikanan di Sulawesi Tengah
berkaitan erat dengan pelaksanaaan program Masterplan Percepatan dan Perluasan
Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) di koridor Sulawesi,”jelasnya.
Selain itu, menurut Sharif, peran pelaku usaha perikanan turut
berperan penting terhadap modernisasi armada perikanan bagi nelayan. “ kita
akan tawarkan kepada para pengusaha dan koperasi untuk menyuntikkan modal untuk
nelayan tradisional,”jelasnya.
Tercatat, sejak 2011 KKP telah menyalurkan bantuan Kapal Inka Mina
berbobot mati 30 GT kepada Provinsi Sulawesi Tengah sebanyak 5 unit kapal.
Kemudian 2012, 7 unit kapal dan pada 2013 9 unit kapal Inka Mina berbobot 30 GT
dan 2 unit kapal berbobot 20 GT.
Seperti diketahui, pemerintah telah menetapkan kawasan timur
Indonesia seperti Maluku, Maluku Utara, Sulawesi dan Papua sebagai
lumbung ikan nasional. Pasalnya, Kawasan Timur Indonesia kaya akan potensi
sumber daya ikan khususnya pada tiga komoditas penting yakni tuna, tongkol dan
cakalang (TTC).
Sehubungan dengan itu, KKP menyatakan konsistensinya untuk
mempercepat program Sistem Logistik Ikan Nasional (SLIN). “KKP telah
menyiapkan anggaran SLIN untuk mengembangkan industri, cold storage dan
pengolahan sehingga para nelayan mampu menyimpan ikannya dalam jangka waktu
yang lama,”paparnya.
Hal senada disampaikan Oleh Wakil Gubernur Sulawesi Tengah
Sudarto. Menurutnya SLIN merupakan langkah tepat dalam memangkas ongkos
distribusi ikan sehingga dapat melancarkan arus distribusi ikan dari kawasan
timur ke sentra pemasaran.
Namun demikian menurutnya, sistem logistik ikan nasional perlu
ditunjang dengan regulasi yang tidak berbelit serta tersedianya sistem
produksi yang memenuhi standar internasional.
Di samping itu Sudarto menyampaikan apresiasinya atas program
industrialisasi kelautan dan perikanan yang diusung KKP. “Industrialisasi
kelautan dan perikanan merupakan langkah tepat untuk meningkatkan daya saing,
nilai tambah dan sistem produksi yang berdasarkan standar internasional,”
jelasnya.
Ia pun mengatakan, bahwa sektor perikanan berpotensi besar dalam
mendukung program ketahanan pangan nasional. “ikan sebagai sumber pangan
dan sumber protein dapat menjadi salah satu sumber pangan yang kandungannya
lengkap bagi masyarakat,” sambung Sudarto.
Dalam kunjungan kerjanya tersebut , Menteri Kelautan dan Perikanan
berkesempatan meninjau industri pengolahan hasil perikanan antara lain pabrik
pengolahan ikan PT. Indo Tropik, coldstorage CV. Mitra Utama dan pabrik
pengolahan rumput laut semi refine PT. Brasindo Gum.
Industri Pengolahan Ingin Armada Perikanan Diperkuat
Sementara itu secara terpisah pengusaha yang bergerak di Cold
Storage CV Utama Aji Ismael Viola mengatakan, kondisi cold storage di kabupaten
Luwuk agak lesu lantaran pasokan ikan dari nelayan kurang. Karena armada
perikanan di Banggai masih di dominasi oleh armada kapal tradisional.
“Langkah KKP, dengan memperkuat armada perikanan tangkap sangat tepat, pasalnya
Kabupaten Banggai memiliki Potensi perikanan yang cukup besar, apalagi
menurutnya musim penangkapan nelayan di luwuk cukup baik hingga mampu
beroperasi 8 bulan per tahun "jelas Aji.
Ia menjelaskan, ikan-ikan dari cold storage tersebut di ekspor ke
berbagai negara seperti, cina dan jepang. Komoditas perikanan yang
diekspor tersebut diantaranya, gurita,ikan layang,ikan kembung, tuna dan
cakalang. Saat ini Kapasitas yang terpasang di cold storage mampu menampung
hasil perikanan hingga 30 ton, namun saat ini terpakai 3 sampai 5 ton.
Sementara untuk komoditas unggulan perikanan tangkap yakni tuna
tongkol dan cakalang, perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan ini
mendapatkan pasokan ikan segar dari nelayan luwuk hingga 75 ton per hari,
sedangkan pasokan dari kab banggai sebesar 125 ton.
"Kita masih kewalahan untuk memenuhi permintaan pasar
internasional yang mencapai 500 ton ikan segar," sambungnya.
Ia pun menyampaikan sarannya, agar pemerintah
membangun Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di dua daerah ini yakni kayutanyo
ama bonebaka. “Jika TPI tersebut dibangun, maka ikan yg di tangkap dari
Banggai Kepulauan, Kendari, Taliabo dan Bau Bau dapat didaratkan secara
optimal,” jelasnya.
Selain itu, Direktur Utama PT Indotropic Edi Handoko mengatakan,
hasil perikanan dari nelayan tradisional di luwuk mutunya terbilang baik dan
terjaga kesegarannya.“Nelayan Luwuk mampu memasok ikan segar dan baik mutunya
hingga 5 ton tiap harinya,” jelasnya.
Hasil perikanan tersebut didominasi oleh ikan demersal seperti
kerapu, kakap, gurita dan cumi-cumi. Industri yang bergerak di unit pengolahan
fillet itu mampu mengekspor gurita ke Spanyol Meksiko dan Eropa hingga mencapai
150 ton. Menurutnya modernisasi nelayan mutlak dilakukan, agar potensi yang
begitu bear agar dapat digali dan dimanfaatkan secara maksimal.
Data BPS Provinsi Sulteng 2011 menyebutkan bahwa Sulawesi Tengah
memiliki lahan potensial tambak seluas 42.095,15 Ha, budidaya air tawar
seluas 134.183,3 Ha. Selain itu terdapat potensi perairan laut seluas
193.923,75 km2 .Sementara potensi laut terbagi dalam tiga zona yaitu, Selat
Makasar dan Laut Sulawesi, Teluk Tomini dan Teluk Tolo. Potensi sumberdaya ikan
di perairan tersebut sekitar 330.000 ton per tahun. Sedangkan ikan yang bisa
dikelola secara lestari sekitar 214.000 ton per tahun. Sementara, Kabupaten
Banggai memiliki 14.600 Rumah Tangga Perikanan (RTP), nelayan sebanyak 17.414
orang, 1853 pembudidaya, 395 pengolah hasil perikanan, 511 pemasaran. Di
samping itu, potensi perikanan tangkap sebesar 48.621 ton/tahun, ikan pelagis
besar 39.000 ton dan ikan demersal 9.239 ton dengan tingkat pemanfaatan sumber
daya ikan sebesar 36,8 persen.
Sumber : Website KKP ( Kementerian Kelautan dan Perikanan) di sini



